Buk Liwa: Strategi Menuju Industri Baja Yang Lebih Hijau

Buk Liwa Strategi Menuju Industri Baja Yang Lebih Hijau

Buk Liwa – Industri baja telah menjadi salah satu sektor yang memiliki jumlah permintaan yang tinggi dari tahun ke tahun. Kenaikan yang signifikan tersebut memberikan dampak ekonomi yang positif.

Namun, secara tidak langsung industri baja juga menyumbang limbah dengan volume yang besar. Agar tercipta keseimbangan pada bisnis di industri baja, maka memerlukan kajian ulang agar dampak lingkungan dapat teratasi namun perputaran bisnis tetap berjalan untuk memenuhi permintaan kebutuhan baja di pasar global dan regional.

Atas dasar permasalahan tersebut, salah satu figur yang terlibat dalam industri baja adalah Buk Liwa dari Gunung Prisma. Menurut Buk Liwa, penting untuk memperhatikan strategi pada saat proses produksi baja dengan menggunakan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sebagai pebisnis yang bergerak di industri baja, Buk Liwa menyadari bahwa industri baja memberikan dampak terhadap perubahan iklim yang terjadi pada lingkungan sekitar.

Maka dari itu, Buk Liwa membagikan strateginya dalam mengatasi permasalahan ini agar perusahaan dan pebisnis lainnya secara bersamaan dapat mulai melakukan langkah yang sama. Sebab, dengan kerjasama yang baik dengan semua pihak, maka tujuan untuk mengurangi dampak perubahan iklim dapat tercapai lebih cepat dari rencana.

Strategi Buk Liwa Menuju Industri Baja Lebih Hijau

Tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi. Termasuk mengurangi gas emisi menjadi energi yang ramah lingkungan. Buk Liwa telah berupaya untuk menerapkan strategi berikut ini agar industri baja menjadi sektor yang lebih ramah lingkungan.

1. Melakukan Konservasi

Salah satu upaya yang dilakukan Buk Liwa dalam mengurangi dampak lingkungan pada industri baja adalah dengan cara melakukan konservasi pada proses produksi baja. Strategi ini dilakukan agar dampak pada lingkungan sekitar dapat berkurang.

Aturan mengenai pengupayaan konservasi ini pun diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 70 pada Tahun 2009 sebagai salah satu bagian dari penerapan Undang Undang No. 30 Tahun 2007 mengenai energi.

Peraturan dan Undang Undang diatas mengatur peranan seluruh pengusaha, pemerintah, stakeholder dan masyarakat sebagai bagian dari penanggung jawab atas pengendalian gas karbon dan emisi di Indonesia.

2. Menggunakan Emisi Karbon Seminimal Mungkin

Gas emisi menjadi penyebab utama gas rumah kaca mengalami peningkatan setiap tahunnya. Melihat hal tersebut, Buk Liwa mencoba untuk mulai menerapkan strategi yang lebih green dan sustainable dalam proses produksi baja di perusahaan Gunung Prisma.

Perusahaan manufaktur di Indonesia sudah mulai menyadari akan pentingnya penggunaan emisi karbon seminim mungkin. Pengurangan emisi karbon ini dapat dilihat dari jumlah produksi bijih besi yang menurun pada tahun 2020 sebesar 3,62 MT yang sebelumnya produksi bijih besi mencapai < 4 juta MT pada tahun 2014 hingga akhir tahun 2020.

3. Memanfaatkan Energi Dengan Teknologi

Agar tujuan akhir pengurangan gas emisi serta perubahan iklim dapat dikendalikan, maka semua sektor yang terlibat di industri baja harus mulai memanfaatkan energi dengan cara menerapkan manajemen energi, penghematan serta efisiensi yang maksimal.

Penggunaan teknologi yang canggih dan inovatif dapat menjadi strategi saat memproduksi baja. Misalnya saja, dengan menggunakan batu bara saat melepaskan karbon dioksida maka baja yang diproduksi akan lebih green serta sustainable.

Memang tidak mudah memberikan solusi dari tantangan dan permasalahan tentang energi dan perubahan iklim. Namun, dengan strategi serta kerja sama yang tepat, tujuan akhir pun akan lebih mudah tercapai.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

You May Also Like