Tips Cerdas Atur Duit Meski Sedikit Saat Covid-19

Cara Atur Duit meski sedikit - Manajemen Keuangan Selama Covid19

Tidak punya duit, itu biasa. Tidak bisa atur duit, itu yang bikin celaka, misalnya foya-foya pakai THR karena sebentar lagi mau Lebaran. Jangan sampai ya?
Senang sekali pada kesempatan kali ini tulisan saya bisa di-publish di blog Mba Rini, salah satu blogger multitalenta, gak pelit berbagi ilmu, humoris, dan pastinya rajin menabung. Hehehe. Apalagi kali ini saya mau sedikit sharing tentang pentingnya mengatur keuangan di tengah pandemi Covid-19 yang masih kita hadapi sampai hari ini.

Kebetulan beberapa waktu lalu saya berkesempatan menikmati diskusi, meski cuma online dengan sahabat saya Mas Feri Kristianto. Beliau merupakan Kepala Perwakilan Bisnis Indonesia di Bali. Pada kesempatan yang sama hadir juga Mas Agus Helly Setyono, seorang pakar keuangan senior yang jam terbangnya sudah tinggi di dunia finansial.

Covid-19 memengaruhi manajemen keuangan kita. Pandemi ini boleh saja menghentikan kita pergi liburan, nongkrong di kafe atau restoran, tapi di sisi lain kita menghabiskan lebih banyak uang untuk persediaan makanan di rumah, beli buku untuk mengisi waktu, atau menyewa mainan agar anak gak bosan #dirumahaja.

Sebagian mungkin bingung, gimana caranya kita bisa mengatur duit meski sedikit agar tetap survive di tengah bencana global ini?

Cara Atur Duit / Manajemen Keuangan Selama Covid-19

Cara Atur Duit meski sedikit - Manajemen Keuangan Selama Covid19

Saya pribadi, mungkin juga pembaca merasa gugup atau takut karena kita gak tahu berapa lama lagi Covid-19 berakhir. Ketidakpastian waktu ini yang membuat semua orang waswas tingkat tinggi.

Oke, nilai investasi kita, apakah itu saham, reksa dana, obligasi, deposito akan turun. Namun, turunnya itu berapa bulan atau berapa tahun lagi? Kita bisa maklum jika dampaknya jangka pendek, tapi kalo jangka panjang?

Saya pikir masing-masing kita pastinya ingin dapurnya tetap ngebul. Bersyukurlah mereka yang masih punya pekerjaan dan pendapatan tetap, apalagi memiliki aset.

Artikel Terkait:  6 Jenis Investasi Ini Cocok untuk Kantong Anak Muda. Ayo Mulai, Jangan Menunda Sampai Tua!

Kondisi berbeda dialami mereka yang mungkin sudah dirumahkan, tak ada lagi gaji bulanan, sementara di rumah ada anak istri yang harus dihidupi. Ujung-ujungnya banyak keluarga terpaksa menjual aset yang ada.

Jika kita masuk golongan kurang beruntung secara finansial akibat pandemi ini, ada baiknya kita mulai bijak mengatur keuangan sedari hari ini. Bagaimana caranya?

1. Pangkas pengeluaran untuk hiburan

Coba lihat catatan pengeluaran bulanan kita. Kalo gak punya catatan, coba diingat-ingat, apa saja pengeluaran untuk hiburan (entertainment) yang bisa kita pangkas? Menurut Mas Agus, ini hal paling realistis bisa dilakukan sekarang.

Kita yang terbiasa ngopi di kafe atau beli kopi online dengan harga rata-rata Rp 25 ribu per gelas, bisa beralih ke kopi lokal atau kopi asli yang diseduh sendiri di rumah. Selain lebih sehat, kita lebih hemat.

Coba deh dihitung, sekiranya kita ngopi dua kali seminggu, dalam sebulan kita menghabiskan Rp 200 ribu. Padahal, dengan uang Rp 25 ribu, kita sudah bisa membeli sebungkus kopi bubuk untuk dikonsumsi sebulan.

Suka langganan Netflix atau aplikasi nonton film berbayar? Biaya ini bisa dipangkas. Toh kita gak bakal sakit atau koma kalo gak nonton sementara kan? Hal sama berlaku untuk yang suka berlangganan Spotify, Joox, YouTube Music, atau aplikasi unyu-unyu buat ponsel yang bisa kita perpanjang di Google Playstore. Manfaatkan saja yang gratisan, gak usah yang berbayar.

2. Efisienkan kartu kredit dan debit

Siapa di sini yang sering gak disiplin bayar cicilan kartu kredit? Itu biaya bunganya tetap jalan loh. Jangan gunakan kartu kredit jika kita tak bisa membayarnya. Jika ingin sesuatu, bayar lunas.

Kita bisa beralih ke kartu debit hingga krisis ini mereda. Namun, harus dikira-kira juga jumlah kartu debitnya.

Siapa di sini yang punya kartu debit bisa sampai 3-5 bank? Biaya bulanannya, Rp 15 ribu tetap dipotong loh. Kalikan saja setahun, berarti totalnya Rp 180 ribu. Itu baru satu kartu.

Masya Allah, saya baru ingat kalo saya punya 4 kartu dari dua bank konvensional dan dua bank syariah. Buru-buru nih langsung tutup kartu debit yang jarang dipakai.

Artikel Terkait:  Pengalaman Pakai FLIP : Aplikasi Transfer Uang Ke Bank Lain Tanpa Biaya Transfer (Kelebihan Dan Kekurangan)

3. Lihat cicilan dengan skala prioritas

Sebagian kita mungkin masih punya tanggungan cicilan di bank atau perusahaan pembiayaan, entah itu cicilan rumah atau kendaraan. Lihat cicilan tersebut satu per satu dengan skala prioritas.

Saat ini pemerintah dan sebagian besar bank memberikan relaksasi atau kelonggaran bagi nasabah untuk menunda cicilan karena Covid-19. Ada yang cicilannya bisa ditunda 6 bulan, bahkan ada yang sampai setahun.

Nah, Mas Agus bilang kuncinya adalah komunikasi yang baik dengan pihak bank. Cari penjelasan lebih lanjut dari pihak bank, bagaimana prosesnya, kemudian tindak lanjutnya.

4. Tetap bayar iuran BPJS dan asuransi kesehatan

BPJS dan asuransi kesehatan sepertinya sudah menjadi kebutuhan pokok kita. Mas Agus mengatakan dalam kondisi seperti sekarang ini justru kita harus mempersiapkan dengan baik BPJS dan asuransi.

Bisa saja kita berobat gratis jika keluhannya adalah gejala Covid-19. Namun, jika kita kena demam berdarah, atau penyakit lainnya? Tetap saja kita harus bayar kan? Inilah pentingnya kita mempunyai asuransi dan disiplin membayar iuran.

Jangan pernah merasa rugi membayar asuransi hanya karena kita tidak pernah memanfaatkannya. Siapa sih yang mau sakit atau mendapat musibah?

Asuransi itu tak ubahnya seperti payung buat kita berjaga-jaga agar jangan sampai kehujanan atau kepanasan. Nah, kita kan gak tahu kapan hujan atau panas terik itu datang. Makanya, siapkan payungnya.

5. Kreatif mencari income tambahan

Don’t depend on single income. Mantra ini selalu diucapkan semua pakar keuangan di dunia. Artinya, kita perlu mempunyai pundi-pundi uang lain di luar pekerjaan utama / side job.

Biasanya ibu-ibu paling kreatif nih mencari income tambahan. Sepanjang Ramadhan ini saja, ibu-ibu di kompleks rumah saya laris manis dagangannya. Ada yang jualan takjil, jualan frozen food, jualan buah, jualan apa saja yang bisa menghasilkan uang untuk tambahan.

Kalo kita punya passion yang bisa menghasilkan uang, lakukan. Misalnya blogger seperti saya yang dengan senang hati menerima sponsored post, content placement, atau jasa penulisan artikel dengan bayaran negotiable.

6. Manfaatkan dana sisa untuk re-investasi

Ada banyak cara mengelola keuangan pribadi. Dua metode yang umum digunakan adalah 50-20-30 dan 60-20-20.

Artikel Terkait:  Manfaat Memiliki Asuransi Jiwa Bersama Lifepal.co.id

Metode 50-20-30 artinya 50 persen pendapatan kita untuk kebutuhan sehari-hari, apakah itu cicilan, makan, belanja bulanan, asuransi, pulsa, air, listrik, dan sebagainya. Sisanya 20 persen untuk tabungan atau investasi, dan 30 persen untuk hiburan.

Metode kedua sama dengan metode pertama. Hanya saja porsi untuk kebutuhan sehari-hari lebih banyak, yaitu 60 persen.

Selama Covid-19, alokasi dana hiburan bisa kita tekan hingga 20 persen atau 10 persen saja. Alihkan sisanya untuk re-investasi jangka pendek, misalnya beli deposito berjangka satu bulanan, atau reksa dana pasar uang.

7. Data aset yang mungkin bisa dicairkan

Jika kita benar-benar tidak ada lagi tabungan dan penghasilan tetap, poin ketujuh ini adalah pilihan terakhir, meski tak banyak membantu. Data aset kita di rumah yang sekiranya bisa dicairkan menjadi uang.

Bisa jadi masih ada cincin emas, atau emas Antam simpanan istri dahulu. Ada baiknya ini dijual dan dialokasikan untuk menutupi biaya wajib yang tak mungkin bisa ditunda, seperti cicilan ke bank. Daripada cicilan kita semakin berbunga dan kena denda, ya kan?

Saya juga teringat cerita beberapa ibu rumah tangga dari keluarga miskin di Jakarta. Mereka malah ada yang menjual peralatan rumah tangganya dengan harga murah, demi bisa mendapatkan uang tambahan. Ini bisa saja dilakukan jika kondisi benar-benar terjepit.

Demikian tujuh tips mengatur duit meski sedikit saat Covid-19. Saya percaya, setiap krisis atau bencana selalu menciptakan sesuatu yang baru yang memungkinkan kita tetap melangkah maju. Sebagai manusia, kita punya kekuatan untuk berinovasi. Itu sebabnya kita harus menerima ujian Allah SWT ini dengan rendah hati. Bukankah setelah cerita sedih pasti ada cerita bahagia? Jaga kesehatan dan #dirumahaja ya temans.

*Penulis, Mutia Ramadhani adalah ibu rumah tangga merangkap blogger dan content writer di Surabaya. Tulisan lainnya bisa diintip di personal blognya, https://muthebogara.blog/

 

***

 

Makasih buat teman-teman yang menyempatkan waktunya untuk mampir dan membaca artikel di celotehdinihari.com, untuk informasi terbaru dan memdapat konten terupdate, silakan klik tombol subscribe ya.

 

1 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.